Kamis, 21 Januari 2010

PENGERTIAN, SKOP, DAN FUNGSI-FUNGSI POKOK ADMINISTRASI PENDIDIKAN

1. Apakah administrasi pendidikan itu?
a. Ilmu administrasi dan administrasi pendidikan
Dalam penjelasan administrasi pendidikan, kita tidak terlepas begitu saja dari pengertian ilmu administrasi. Bahwa administrasi pendidikan menrupakan pengguna dari aplikasi ilmu administrasi dari pendidikan. Administrasi pendidikan merupakan ilmu
yang muncul pada abad ke-19, bahwa kata administrasi berasal dari kata latin “ad” dan ”ministrate”. Ad = kepada, ministrate = melayani, membantu, atau mengarahkan. Jadi dapat kita artikan administrasi adalah sebagai kegiatan atau usaha untuk membantu, melayani, mengarahkan, atau mengatur semua kegiatan dalam mencapai tujuan b. Pengertian administrasi pendidikan
Pengertian administrasi didepan sudah dikemukakan, bahwa pengertian pendidikan menurut Driyakarya yakni memanusiakan manusia. Dalam UU No.20/2003 (SISDIKNAS 2003) Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar agar pesrta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyrakat, bangsa dan negara.
Sedangkan pengertian administrasi pendidikan menurut Ngalim Purwanto yakni mencakup kegiatan yang luas, meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, dsb, yang menyangkut bidang materil, personil dan spiritual dalam bidang pendidikan pada umumnya, dan dalam bidang sekolah pada khususnya.
2. Manajemen dan administrasi pendidikan
Manajemen adalah proses untuk menyelenggarakan dan mengawasi suatu tujuan tertentu. Dalam definisi lain mengemukakan bahwa manajemen adalah fungsi dewan manajer (biasanya dinamakan manajemen), untuk menmetapkan kebijakan (policy) mengenai apa macam produk yang akan dibuat, bagaimana pembiayaannya, memberikan servise dan memilih serta melatih pegawai, dan lain-lain faktor yang mempengaruhi kegiatan usah. Lebih lagi manajemen bertanggung jawab dalam membuat suatu susunan organisasi untuk melaksanakan kebijakan itu.
3. Administrasi pendidikan dan administrasi sekolah
Adminstrasi pendidikan mengandung pengertian yang lebih luas daripada administrasi sekolah. Administrasi sekolah merupakan bagian dari administrasi pendidikan, administrasi pendidikan meliputi kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan pendidikan di suatu negara atau bahkan pendidikan pada umumnya. Sedang administrasi sekolah kegiatannya terbatas pada pelaksanaan pengelolaan pendidikan di sekolah hingga akhirnya kita mengenal adanya administrasi sekolah dasar, menengah, perguruan tingi dan sebagainya.
4. Skop (bidang garapan) administrasi pendidikan
Dapat kita simpulakan bahwa administrasi pendidikan mencakup beberapa hal diantaranya ; administrasi personil, administrasi kurikulum, kepemimpinan, kepengawasan, atau supervisi pendidikan, administrasi bisinis pendidikan, organisasi lembaga pendidikan, dan lain sebagainya.
5. Pentingnya administrasi pendidikan
Yakni untuk menentukan maju mundurnya suatu instansi atau lembaga yang mereka garap, suatu sekolah dapat berjalan baik dan berarah jika setiap tahun sekolah itu menentukan dan merencanakan kebijakan yang akan dijalankan pada tahun itu.
6. Fungsi-fungsi Pokok administrsi pendidikan
Dalam fungsi pokok administrasi pendidikan yang mencangkup perencanaan, organisasi, koordinasi, komunikasi, dan evaluasi, semua fungsi tersebut satu sama lain saling berkaitan.



II Bab halaman 24 s/d 45
KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN

A. Pengertian kepemimpinan
1. Beberapa konsep kepemimpinan
Ditinjau dari sejarah perkembangannya dapat dikemukakan disini adanya tiga konsep yakni : (1) Konsep pertama mengemukakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang berupa sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang ada pada diri seseorang. (2) Konsep kedua, mengemukakan bahwa konsep ini memandang kepemimpinan sebagai fungsi kelompok. (3) Konsep ketiga, konsep ini merupakan konsep yang lebih maju lagi, konsep ini tidak hanya didasari atas pandangan yang bersifat psikologis dan sosiologis, tetapi juga atas ekonomi dan politis.
2. Definisi kepemimpinan
Berdasarkan konsep-konsep diatas, pengertian kepemimpinan dapat ditelaah dari berbagai segi seperti dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirjo, yakni :
Kepemimpinan dapat didefinisikan yakni, sutu kepribadian seseorang yang mendatangkan keinginan pada kelompok orang-orang yang mencontohnya. Dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
B. Dimensi-dimensi dalam kepemimpinan
Dalam usahanya menggabungkan teori dan penelitian tentang kepemimpinan, David G. Bowers dan Stanly E. Seashore mengusulkan empat dimensi pokok dari sturktur fundamental kepemimpinannya, yaitu :
1. Bantuan (Support) tingkah laku yang memperbesar perasaan berharga seseorang dan merasa dianggap penting.
2. Kemudahan Interaksi tingkah laku yang memberanikan anggota-anggota kelompok untuk mengembangkan hubungan-hubungan yang saling menyenangkan.
3. Pengutamaaan tujuan tingkah laku yang merangsang antusiasme bagi penemuan tujuan kelompok mengenai pencapaian prestasi yang baik.
4. Kemudahan bekerja tingkah laku yang membantu tujuan dengan kegiatan-kegiatan seperti penetapan waktu, pengoordinasian, perencanaan, dan penyediaan sumber-sember seperti alat-alat, bahan-bahan, dan pengetahuan teknis.
C. Pendekatan dan model kepemimpinan
1. Pendahuluan
Carrol dan Tosi merangkum tiga pendapat-pendapat para ahli seperti tersebut diatas menjadi tiga pendekatan/teori kepemimpinan saja, yaitu pendekatan sifat, pendekatan perilaku, dan pendekatan situasional. Ketiga pendekatan kepemimpinan inilah yang akan menjadi fokus pembicaraan di dalam pasal ini.
2. Pendekatan sifat-sifat
Jadi menurut pendekatan ini, seseorang menjadi pemimpinan karena sifat-sifatnya yang dibawa sejak lahir, bukan karena dibuat atau dilatih. Seperti dikatan oleh Thie Rauf-pendekatan keturunan menyatakan bahwa pemimpin adalah dilahirkan bukan dibuat-bahwa pemimpin tidak dapat memperoleh kemampuan untuk memimpin, tetapi mewarisinya.
3. Pendekatan perilaku
Pendekatan perilaku (behaviour approuch) merupakan pendekatan yang berdasarkan pemikiran bahwa keberhasilan atau kegagalan pemimpin ditentukan oleh sikap dan gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin yang bersangkutan.
4. Pendekatan situasional
Pendekatan situasional disebut juga pendekatan kontingensi, pendekatan ini didasarkan asumsi bahwa keberhasilan kepemimpinan auatu organisasi atau lembaga tidak hanya bergantung pada atau dipengaruhi oleh perilaku dan sifat-sifat pemimpin saja, tiap-tiap organisasi atau lembaga memiliki cirri-ciri khusus dan unik.
5. Beberapa model kepemimpinan
Pendekatan situasional atau pendekatan kontingensi melahirkan banyak model kepemimpinan. Beberapa model kepemimpinan yang akan diutarakan di sini adalah model kepemimpinan kontingensi fielder, model kepemimpinan tiga dimensi, dan model kepemimpinan lima faktor.
6. Aplikasinya bagi kepemimpinan
Dalam hubungan dengan kepemimpinan pendidikan, penulis berpendapat bahwa ketiga macam pendekatan, pendekatan sifat, pendekatan perilaku, dan pendekatan situasional sangat diperlukan. Ketiga-tiganya merupakan variabel pokok yang dapat mempengaruhi keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam kepemimpinan pendidikan.

Bab III halaman 48 s/d 67
KEPEMIMPINAN DALAM PENDIDIKAN

A. Tipe atau gaya kepemimpinan
Tipe atau gaya kepemimpinan ada tiga yakni ; (1) otokratis, yakni pemimpin yang bertindak dictator terhadap anggota-anggotanya, (2) laisserfair, yakni memberikan kebebasan terhadap bawahannya, (3) demokratis, yakni seorang pemimpin yang selalu memberikan dorongan kepada bawahannya, pemimpin demokratis mencoba bersifat obyektif dalam memuji dan mengkritik.
B. Sifat-sifat kepemimpinan
Yakni yang dikemukakan oleh Prof. Dr. A. Abdurrahman, adil, suka melindungi, penuh inisiatif, penuh daya penarik, penuh kepercayaan pada diri sendiri. Setelah tahu sifat kepemimpinan perlu juga kita ketahui tentang sifat kepemimpinan pendidikan, yakni : rendah hati dan sederhana, bersifat suka menolong, sabar dan memiliki kestabilan emosi, percaya pada diri sendiri, Jujur, adil, dan dapat dipercaya, keahlian dalam jabatan.
C. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pemimpin
Dalam pasal ini akan dibicarakan secara khusus dan lebih konkret lagi factor-faktor yang pada umumnya sangant dominan mempengaruhi perilkau seorang pemimpin. Adapun factor-faktornya sebagai berikut :
Keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya oleh pemimpin untuk menjalankan kepemimpinannya.
Jenis pekerjaan atau lembaga tempat pemimpin itu melaksanakan tugas jabannya.
Sifat-sifat kepribadian pemimpin.
Sifat-sifat kepribadaian pengikut atau kelompok yang dipimpinnya.
Sangsi-sangsi yang ada di tangan pemimpin.
D. Kepala dan pemimpin
Kepala maupun dalam pengertian kedua tersebut memiliki persamaan dan perbedaan yakni :
Persamaannya ; keduanya menghadapi/ mengepalai kelompok, keduanya bertanggung jawab.
Perbedaannya yakni :
Kepala bertindak sebgai penguasa, sedangkan pemimpin bertindak sebagai organisator dan koordinator. Dll.
Tugas seorang kepala yakni, bertanggung jawab terhadap pihak ketiga/ atasannya, atau tugas yang telah dipikulnya. Bagaimana seorang kepala dapat mendapat pengakuan sebagai pemimpin? Kepala harus mengetahui cara yang baik untuk mengerjakan sesuatu untuk mengetahui hasil mana yang baik, dan waktu mana yang tepat untuk mencapai tujuan.
Pemimpin, dalam pandangan kuno dan modern. Pemimpin dalam kontek kuno yakni seorang yang memiliki segala kelebihan dari orang-orang yang lain, seperti orang terkuat, paling pemberani, terpandai, paling banyak makan garam dan lain sebagainya. Sedangkan pemimpin dalam kontek modern seperti sekarang ini, yakni : kecakapan-kecakapan seorang dewasa ini terutama terletak pada kecakapan memilih pembantu-pembantu (orang yang memiliki keahlian tertentu sehingga dapat menjalankan peranan tertentu dalam rangka keseluruhan, kecakapan membuat team keahlian tertentu, yang dapat memenuhi kebutuhan anggota-anggota kelompoknya).
E. Peranan seorang pemimpin
Adapun peranan seorang pemimpin menurut ahli jiwa menyimpulkan ada 13, yakni : (1) sebagai pelaksana executive, (2) sebagai perencana planner, (3) sebagai orang ahli exepert, (4) mewakili kelompok, (5) mengawasi hubungan antar anggota kelompok, (6) bertindak sebagai pemberi ganjaran/ pujian dan hukuman, (7) bertindak sebagai wasit dan penegah, (8) merupakan bagian dari kelompok exemplar, (9) merupakan lambang kelompok, (10) pemegang tanggung jawab, (11) sebagai pencipta/ memiliki cita-cita, (12) bertindak sebagai seorang ayah, (13) sebagai “kambing hitam”.
F. Pengambilan putusan
Langkah-langkah pengambilan keputusan,
Model-model pengambilan keputusan, Jenis-jenis partisipasi.

Bab IV halaman 73 s/d 97
KEPENGAWASAN DALAM PEMIMPIN

1. Masalah tanggung jawab
Tanggung jawab adalah kesanggupan untuk menjalankan suatu tugas kewajiban yang dipikulkan kepadanya dengan sebaik-baiknya.
2. Supervisi (kepengawasan)
a. Pendahuluan
Sesuai dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan pendidikan di negara kita Indonesia ¬– sejak zaman penjajahan Belanda hingga zaman kemerdekaan sampai sekarang – maka kewajibannya dan tanggung jawab para pemimpin pendidikan umumnya dan kepala sekolah khususnya mengalami perkembangan dan perubahan pula.
b. Pengertian supervisi
Supervisi adalah suatu aktivasi pembinaan yang direncanakan untuk para guru dan pegawai sekolah lainnya dalam melakukan pekerjaan mereka secara aktif.
c. Tipe-tipe kepengawasan
Burton dan brueckner mengemukakan adanya lima tipe supervisi, yaitu inspeksi, laissez-faire, coercive, training and guidance, dan democratic leadership.
d. Kepengawasan dan semangat
Dalam melakukan pengawasan perlu adanya penyelenggaraan dan pelaksanaan kerja sama seperti dimaksudkan di atas, diperlukan dasar-dasar yang meliputi keinsafan, kesadaraan, dan semangat.
Semangat ialah sesuatu yang membuat orang-orang mengabdi kepada tugas pekerjaannya, di mana kepuasan bekerja dan hubungan-hubungan kekeluargaan yang menyenangkan menjadi bagian dari padanya. Rasa kekeluargaan, loyalitas, antusiasme, sifat dapat dipercaya, dan kesanggupan bekerja sama, menjadi cirri-ciri semangat yang tinggi.
e. Ciri-ciri seorang supervisor yang baik
Berpengetahuan luas tentang seluk-beluk semua pekerjaan yang berada di bawah pengawasan. Menguasi/ memahami benar-benar rencana dan program yang telah digariskan yang akan dicapai oleh setiap lembaga atau bagian. Berwibawa, dan memiliki kecakapan praktis tentang theknik-theknik kepengawasan, terutama human relation. Memiliki sifat-sifat jujur, tegas, konsekuen, ramah, dan rendah hati. Berkemauan keras, rajin bekerja demi tercapainya tujuan atau program yang telah digariskan/disusun.
f. Fungsi-fungsi supervisi
Dalam bidang kepemimpinan. Dalam hubungan kemanusiaan. Dalam pembinaan proses kelompok. Dalam bidang administrasi personel. Dalam bidang evaluasi.
g. Tugas-tugas supervisor
Menghadiri rapat/pertemuan-pertemuan organisasi-organisasi professional
Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru-guru.
Melakukan classroom visitation atau class visit.
Mendiskusikan metode-metode mengajar dengan guru-guru, dll.
3. Jenis supervisi
a. Supervisi umum dan supervisi pengajaran
Supervisi umum yang dilakukan terhadap kegiatan-kegiatan atau pekerjaan yang secara tidak langsung berhubungan dengan usaha perbaikan pengajaran. Sedangkan supervisi pengajran disini yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi baik personil maupun materil.
b. Supervisi klinis
Supervisi klinis merupakan bentuk proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru/calon guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perubahan mengajar.
c. Pengawasan melekat dan pengawasan fungsional
Dalam pengawasan yang dilakukan oleh menteri P dan K, dan perundang-undangan yang berlaku dan rencana yang telah ditetapkan. Agar tidak terjadi salah urus. Pengawasan fungsional merupakan bentuk pengawasan yang dilakukan oleh orang-orang yang fungsi jabatannyasebagai pengawas.
4. Intervice-training dan upgrading
Intervice-training merupakan salah bentuk pembinaan yang bertujuan guna meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas pengajar. Sedangkan upgrading (penataran) merupakan tujuan untuk meninggikan taraf ilmu pengetahuandan kecakapan para pegawai.
5. Penempatan guru dan mutasi pemimpin sekolah.
Masalah penemptan guru, ini dikarenakan belum adanya planning. Dari pengalaman yang sudah-sudah bahwa pengangkatan atau penempatan guru merupakan masalah yang tidak mudah karena memrlukan pemikiran dan pertimbangan yang matang. Adapun mutasi pimpinan sekolah dimana dalam mutasi vertikal maupun horizontal merupakan suatu bentuk roling kerja atau peningktan mutu mengajar.

Bab V halaman 101 s/d 123
KEPALA SEKOLAH SEBAGAI ADMINISTRATOR DAN SUPERVISOR

1. Kepala sekolah sebagai administrator
a. Membuat perencanaan
Program pengajaran, kesiswaan atau kemuridan, kepegawean, keuangan, perlengkapan.
b. Menyusun orgasnisai sekolah
Untuk menyusun organisai sekolah yang baik perlu diperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: mempunyai tujuan yang jelas, para anggota memahami dan memahami tujuan tersebut, adanya kesatuan arah sehingga dapat menimbulkan kesatuan tindakan, kesatuan, dsb.
c. Bertindak sebagai koordinator dan pengarah
Adanya koordinasi serta pengarahan yang baik dan berkelanjutan dapat menghindarkan kemungkinan terjadinya persaingan yang tidak sehat antar bagian atau antar personel sekolah, dan atau kesimpangsiuran dalam tindakan.
d. Melaksanakan pengelolaan kepegawean
Pengelolaan kepegawaian mencakup didalamnya penerimaan dan penempatan guru dan atau pegawai sekolah, pembagian tugas pekerjaan guru pegawai sekolah, usaha kesejahteraan guru dan pegawai sekolah, dsb.
2. Funsi-fungsi pokok operasinal sekolah
Ada lima fungsi pokok pengoperasian sekolah yang harus diketahui, yakni: (1) Fungsi manajemen, (2) fungsi administrasi umum, (3) fungsi pengwasan atau supervisi, (4) fungsi pengajaran, (5) fungsi pelayanan khusus.
3. Kepala sekolah sebagai supervisor
a. Tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan
Supervisor hendaknya pandai meneliti, mencari, dan menentukan syarat-syarat mana sajakah yang diperlukan bagi kemajuan sekolahnya sehingga tujuan-tujuan pendidikan di sekolah itu semaksimal mungkin dapat tercapai.
b. Prinsip-prinsip supervisi dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
Prinsipnya yakni; suipervisi hendaknya bersifat kontruksif dan kreatif, supervisi harus sederhana dan informal dalam pelaksanaannya, dsb.
c. Fungsi kepala sekolah sebagai supervisor pengajaran
Fungis sebagai administrator antara lain; membangkitkan dan merangsang guru-guru dan pegawai sekolah di dalam menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya, dsb.
d. Teknik-tehnik supervisi
Teknik perseorangan yakni; mengadakan kunjungan kelas, mengadakan kunjungn observasi, dsb. Kedu teknik kelompok yakni; mengadakan pertemuan atau rapat, mengadakan diskusi kelompok, menadakan penataran-penataran, dsb.
e. Pembagian tugas pekerjaan kepada guru
Pemberian tugas pekerjaan kepada guru merupakan tanggung jawab kepala sekolah.

Bab VI halaman 128 s/d 138
STRUKTUR ORGANISASI
DALAM PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

1. Struktur sentralisasi
Dalam sistem sentralisasi semacam ini, cirri-ciri pokok yang sangat menonjol ialah adanya uniformitas (keseragaman) yang sempurna bagi seluruh daerah di lingkungan negara itu.
2. Struktur desentralisasi
Di negara-negara yang organisasi pendidikannya di-desentralisasi, pendidikan bukan urusan pemerintah pusat, melainkan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan rakyat setempat.
3. Organisasi pendidikan di Indonesia
Adanya sejarah singkat yang menceritakan pendidika dari zaman penjajahan belanda hingga sampai zaman kemerdekaan seperti sekarang ini. Organisasi yang terdapat senisal penyelenggaraan SD, pendidikan diluar Dep P dan K,
4. Struktur organisasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Dalam struktur organisasi ini terdapat lima macam yakni;
a. Menteri dan Staf ahli menteri
b. Unit organisasi tingkat pusat
c. Kantor wilayah Departemen P dan K
d. Kantor Depdikbud Kabupaten/ kotamadya
e. Kantor Depdikbud Kecamatan

Bab VII halaman 144 s/d 156
GURU DAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN

1. Pentingnya partisipasi dalam administrasi pendidikan
Partisipasi yang di maksud di sini adalah, hendaknya ditafsirkansebagai sebuah kesempatan kepada pihak guru dan kepala sekolah untuk memberi contoh tentang bagaimana demokrasi dapat di terapkan untuk memecahkan berbagai masalah pendidikan.
2. Arti demokrasi dalam administrasi sekolah
Penerapan demokrasi dalam administrasi sekolah hendaknya diartikan bahwa administrasi sebagai kegiatan atau rangkaian kegiatan kepemimpinan, dengan tujuan sekolah dan cara untu mencapainya dikembangkan dan dijalankan.
3. Beberapa kesempatan berpartisipasi
a. Mengembangkan filsafat pendidikan
b. Memperbaiki dan menyesuaikan kurikulum
c. Merencanakan kebijakan-kebijakan kepegawaian
d. Kesempatan-kesempatan berpartisipasi lainnya
4. Orientasi bagi guru-guru baru
Orientasi di sisni sangat diperlukan karena setiap pegawai atau guru baru pada umumnya menghadapi problem, baik problem yang menyangkut dirinya sendiri maupun problem yang berhubungan dengan tugas-tugas pekerjaan yang akan dilakukan.
5. Kode etik guru
Guru berbakti membimbing anak didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan yang ber-pancasila, guru menjaga hubungan baik dengan masyarakat sekitar dan diluar, dsb.




Bab VIII halaman 160 s/d 163
ORGANISASI SEKOLAH

1. Pentingnya organisasi sekolah yang baik
Sekolah, sebagai suatu lembaga pendidikan yang di dalamnya terdapat kepala sekolah, gruru-guru, pegawai, tata usaha, dsb. Factor lain untuk menunjang organisasi sekolah yang baik yakni karena tugas guru-guru tidak hanya mengajar saja, juga pegawai tata usaha, pesuruh dan penjaga sekolah, dll.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi susunan organisasi sekolah
Adapun faktor yang mempengaruhi adanya organisasi sekolah yakni, ada tiga;
a. Besar kecilnya sekolah
b. Letak sekolah
c. Jenis dan tingkatan sekolah






3. Contoh struktur organisasi sekolah
Organisasi sekolah yang agak besar (SMTP/ SMTA)














4. Penyelenggaraan rapat sekolah
a. Perencanaan, waktu, dan acara rapat,
b. Pimpinan rapat,
c. Suasana rapat,
d. Putusan rapat,
e. Penilaian (evaluasi) terhadap jalannya rapat,
f. Fungsi-fungsi penyelenggaraan rapat perlu bergiliran.

Bab IX halaman 169 s/d 185
ARTI, PROGRAM, DAN ORGANISASI BIMBINGAN DI SEKOLAH

1. Arti dan pentingnya bimbingan
a. Pendahuluan
Dalam bab ini akan dibicarakan secara singkat tentang bimbingan terhadap murid-murid. Mengingat masalah bimbingan ini merupakan hal yang masih baru bai sekolah-sekolah kita pada umumnya, maka dalam rangka administrasi pendidikan ini masalah tersebut akan diuraikan secara garis besarnya saja dan bersifat memberikan pengertian elementer sebagai dasar pengertian dan pelaksana bagi guru-guru.
b. Apakah yang dimaksdu dengan bimbingan
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada seorang individu dari setiap umur, untuk menolong dia dalam mengatur kegiatan-kegiatan hidupnya, mengembangkan pendirian/ pandangan hidup, membuat putusan-putusan, dan memikul beban hidupnya sendiri.
c. Bagi siapa bimbingan itu diperlukan
Bimbingan sangat diperlukan bukan hanya pada kalangan SLP dan SLA saja, tetapi juga SD, akademi-akademi dan perguruan tinggi, dan bahkan juga bagi orang-orang dewasa dalam masyarakat.
d. Mengapa bimbingan perlu diadakan disekolah-sekolah
Karena banyak di antar anak-anak kita yang tidak mengetahui kemana harus melanjutkan sekolahnya yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya, dsb.
e. Siapa yang melakukan bimbingan tersebut
Biasanya yang melakukan bimbingan ini adalah orang-orang yang disebut guidance conselor. Ada pula sekolah yang membentuk team guru-guru sebagai petugas bimbingan (group guidance teacher), dan setiap guru anggota team itu disebutnya teacher conselor.
f. Bagaimana untuk sekolah-sekolah kita
Bagi sekolah dan masyarakat kita dewasa ini, bukan maksudnya untuk melaksanakan bimbingan itu menuggu sampai tersedianya para ahli seperti dikatakan diatas.
2. Fungsi bimbingan dalam pendidikan
a. Bimbingan dan pendidikan
Apa yang dilakukan guru terhadap murid-muridnya, seperti menolong seorang anak yang mengalami kesulitan dalam belajarnya, usaha memberikan pendidikan yang sesuai dengan minat dan kecakapan anak-anak, memberi nasihat kepada seorang anak yang meminta berhenti dari sekolahnya karena suatu sebab, dll.
b. Bimbingan mengefektifkan program sekolah
Memperhatikan individu anak-anak, mendekatkan hubungan sekolah dengan masyarakat, membimbing individu ke arah jabatan atau pekerjaan yang sesuai.
3. Program bimbingan disekolah
a. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan
Dalam hal bimbingan yang perlu diperhatikan adalah bahwa inti dari bimbingan terletak di dalam jiwa atau semangat yang di dalamnya pelayanan-pelayanan yang di berikan.
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi program bimbingan
Di samping factor pelaksana (orang-orang yang bertugas melaksanakan bimbingan itu), juga factor alat dan perlengkapan, metode dan bentuk pelayanan, anak-anak atau murid-murid yang menerima bimbingan itu, dan lembaga-lembaga masyarakat yang erat hubungannya dengan pelaksana bimbingan itu.
c. Ciri-ciri umum program bimbingan
Kegiatan bimbingan harus dilakukan secara kontinyu, proses bimbingan harus menyerap setiap kegiatan sekolah, semua fase program bimbingan harus di koordinasi, dan program itu hendaklah mengarahkan titik perhatiannya pada tujuan-tujuan dan masalah-masalah individu murid-murid.
d. Implikasi-implikasi suatu program bimbingan
Implikasinya dalam hal program bimbingan ini yang mengarah pada individu murid, bagi organisasi dan pekerja sekolah.
4. Organisasi bimbingan di sekolah
a. Permasalahan
Tidak semua orang dapat mengatasi dan menyelesaikan kesulitan dalam hidupnya. Apalagi anak-anak, sebagai generasi muda yang belum matang dan masih memerlukan bimbingan dan pendidikan untuk persiapan hidupnya pada masa yang akan datang.
b. Struktur organisasi bimbingan di sekolah
Di sekolah-sekolah yang memiliki cukup tenaga ahli, seperti di negara-negara yang lebih maju, orang-orang yang diperlukan di dalam organisasi atau lembaga bimbingan itu mencakup dokter, ahli agama, ahli penyakit jiwa (psikiater), ahli ilmu jiwa (psikolog), pekerja sosial (sosial workers), dan ahli pendidikan (pedagog/education).

Bab X halaman 188 s/d 196
HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT

1. Pentingnya hubungan sekolah dan masyarakat
Sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat; ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat, hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat, sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
2. Tujuan hubungan sekolah dan masyarakat
Pengembangan penyelenggaraan hubungan sekolah dan masyarakat bertujuan untuk:
Memelihara kelangsungan hidup sekolah, meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang bersangkutan, memperlancar proses belajar mengajar, memperoleh dukungan dan bantuan dari masyarakat yang diperlukan dalam pengembangan dan pelaksanaan progran sekolah.
3. Jenis-jenis hubungan sekolah dan masyarakat
Penulis berpendapat bahwa hubungan kerja sama sekolah dan masyarakat itu dapat digolongkan menjadi tiga jenis hubungan, yakni
Pertama, hubungan edukatif
Kedua, hubungan kultural
Ketiga, institusional
4. Masyarakat adalah lingkungan sosial
Dalam salah satu tulisannya Dr. Siswojo, mengemukakan bahwa isi lingkungan sosial digolongkan dalam empat hal yakni:
(1) Fisik, teknologi, dan sumber manusia,
(2) Sistem hubungan keluarga dalam masyarakat,
(3) Jaringan-jaringan organisasi,
(4) Cara-cara berfikir, kepercayaan, dan nilai-nilai yang ada dan di anut oleh masyarakat.


























KESIMPULAN

Penguraian yang terdapat dalam buku ini lebih terarah kepada kebutuhan praktis yang terdapat di lapangan. Penjelasan yang terdapat dalam buku ini akan memudahkan kita sebagai calonj Pendidik yang tidak akan lepas dari tugas dan kewajibannya sebagai pengelola sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya.
Pokok-pokok materi yang terdapat dalam buku ini antara lain adalah konsep Administrasi Pendidikan dalam hubungannya dengan Ilmu administrasi, bidang-bidang garapan administrasi pendidikan, kepemimpinan dalam bidang pendidikan, fungsi kepala sekolah sebagai administrator dan supervisor, organisasi pendidikan di Indonesia khususnya Departemen P dan K, Organisasi Sekolah, serta hubungan Sekolah dengan masyarakat
Dengan adanya buku ini kita bisa lebih jauh untuk mengetahui bahwa tugas guru disekolah tidak hanya mengajar saja, akan tetapi juga sebagai seorang supervisor yang mempunyai tanggung jawab untuk memajukan sekolah tersebut

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar